|

Streaming Radio Suara Landak

Gubernur Ria Norsan Ingatkan Warga Tak Bakar Lahan: Ribuan Orang Bisa Jadi Korban

 

Gubernur Kalbar Ria Norsan saat pahamkan api karhutla. SUARALANDAK/SK
Kubu Raya (Suara Landak) — Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengingatkan masyarakat agar tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Di tengah kondisi kemarau yang masih berlangsung, praktik tersebut dinilai berisiko memicu kebakaran yang sulit dikendalikan dan berdampak luas terhadap masyarakat.

Imbauan itu disampaikan Ria Norsan saat meninjau langsung penanganan kebakaran lahan gambut di wilayah Sekunder C, Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Rabu (2/9/2026).

Ria Norsan menegaskan, dampak pembakaran lahan tidak hanya dirasakan oleh pemilik lahan, tetapi dapat meluas hingga mengganggu kesehatan, aktivitas masyarakat, bahkan penerbangan.

“Tolonglah, karena kasihan gara-gara membakar lahan, yang korban ribuan orang. Bahaya asap dan lain sebagainya, penerbangan juga nggak bisa karena ini dekat dengan bandara. Itu imbauan saya kepada masyarakat,” tegas Ria Norsan.

Dalam peninjauan tersebut, Ria Norsan didampingi Wakil Bupati Kubu Raya Sukiryanto. Keduanya melihat langsung proses pemadaman kebakaran lahan gambut yang telah berlangsung selama dua hari.

Ria Norsan juga menyaksikan kondisi lahan gambut yang terbakar serta upaya tim gabungan dan relawan dalam mengendalikan api. Ia memberikan apresiasi kepada seluruh petugas yang tetap bekerja di lapangan meski menghadapi kondisi medan yang cukup berat.

Menurut Ria Norsan, karakteristik lahan gambut menjadi salah satu kendala utama dalam proses pemadaman. Api tidak hanya membakar permukaan, tetapi dapat menjalar di bawah permukaan tanah sehingga proses pemadaman membutuhkan waktu dan penanganan yang lebih intensif.

“Hari ini kita lihat di Sekunder C ini terjadi kebakaran gambut, tanah gambut. Cukup luas lahan gambut di sini, sehingga pemadam juga kewalahan memadamkannya. Sudah dua hari memadamkan di sini,” ujarnya.

Kondisi tersebut semakin menantang ketika hembusan angin cukup kencang. Angin dapat mempercepat penyebaran api sekaligus membawa asap ke wilayah yang lebih luas.

Gubernur menegaskan, persoalan karhutla tidak semata-mata berkaitan dengan kerusakan lingkungan. Kabut asap yang ditimbulkan juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat dan aktivitas sosial maupun ekonomi.

Terlebih, lokasi kebakaran di Sekunder C relatif dekat dengan Bandara Internasional Supadio. Jika kabut asap semakin pekat dan menurunkan jarak pandang, aktivitas penerbangan dapat ikut terdampak.

Pemerintah daerah pun mengoptimalkan langkah antisipasi terhadap dampak kesehatan akibat paparan asap. Dinas Kesehatan bersama puskesmas dan rumah sakit disiagakan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

“Kalau ada yang kena ISPA, rumah sakit, puskesmas aktif semuanya 24 jam untuk menampung masyarakat yang kena ISPA. Jadi semua kita gerakkan, dari kesehatannya, TNI, Polri, kemudian masyarakatnya, semua kita gerak untuk memadamkan api,” kata Ria Norsan.

Ia mengungkapkan, total luas lahan yang terbakar di Kalimantan Barat saat ini mencapai sekitar 38.000 hektare. Wilayah terdampak mencakup kawasan hutan, lahan masyarakat, lahan pertanian hingga hutan produksi.

Sebagian besar wilayah yang terdampak telah mendapatkan penanganan dari tim gabungan. Sementara itu, perkembangan jumlah titik panas di sejumlah wilayah Kalimantan Barat mulai menunjukkan tren penurunan.

Meski demikian, Ria Norsan meminta seluruh pihak tidak mengendurkan kewaspadaan. Kondisi kemarau masih menyimpan potensi munculnya titik api baru sehingga pencegahan harus terus dilakukan.

“Jangan sampai lengah. Kita harus terus melakukan pencegahan dan penanganan bersama,” tegasnya.

Ria Norsan meminta pemerintah daerah, TNI, Polri, masyarakat, serta relawan terus memperkuat sinergi dalam mencegah dan menangani karhutla.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat sangat penting karena pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan menangani kebakaran yang sudah meluas.

Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat juga memberikan dukungan kepada petugas dan relawan yang berada di lokasi kebakaran. Ria Norsan menyerahkan bantuan berupa masker, makanan, dan vitamin untuk membantu kebutuhan para personel yang masih berjibaku memadamkan api.

Bantuan tersebut menjadi bentuk perhatian pemerintah terhadap para petugas dan relawan yang bekerja di lapangan dalam kondisi medan yang berat serta terpapar asap selama proses pemadaman.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, kata Ria Norsan, akan terus melakukan pemantauan dan penanganan karhutla secara terpadu. Upaya pencegahan juga diperkuat untuk mengantisipasi munculnya kebakaran baru selama musim kemarau.

Ria Norsan kembali menekankan pentingnya kesadaran masyarakat untuk tidak menggunakan api dalam membuka maupun membersihkan lahan.

Sebab, kebakaran yang bermula dari satu titik lahan dapat berkembang menjadi persoalan besar ketika api menjalar ke kawasan gambut dan menghasilkan asap yang berdampak hingga ke permukiman.

“Pesan utama kita adalah jangan membakar lahan. Karena dampaknya bukan hanya kepada diri sendiri, tetapi bisa dirasakan ribuan masyarakat,” pungkasnya.[SK]

Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini

 
Play