![]() |
| Sari Santika dan Ibunya. SUARALANDAK/SK |
Sari yang kini duduk di kelas II SMP tersebut menduga keluhan pada kulitnya berkaitan dengan kebiasaannya menggunakan air Sungai Nanga Gonis untuk mandi. Dugaan itu muncul di tengah keresahan warga terkait dugaan pencemaran aliran sungai yang disebut berkaitan dengan aktivitas pabrik kelapa sawit.
“Sudah lama, sejak habis Lebaran Haji kena gatal-gatal akibat mandi di sungai,” ujar Sari saat ditemui Suara Kalbar, Selasa (1/9/2026).
Menurut Sari, rasa gatal tersebut hingga kini masih dirasakan. Bahkan, pada sejumlah bagian tubuhnya, kulit mengalami pengelupasan akibat keluhan yang dialaminya.
Kondisi tersebut membuat keluarga Sari khawatir. Sang ibu, Sadiah (44), mengatakan anaknya sudah dibawa berobat secara mandiri. Namun, keluhan pada kulit Sari belum juga sembuh.
“Sudah kita bawa ke mantri, katanya kena gatal, tidak boleh makan telur dan mi. Tapi masih juga gatal-gatal,” kata Sadiah.
Sadiah mengatakan penggunaan air sungai masih menjadi bagian dari kebutuhan sehari-hari keluarganya, termasuk untuk mandi. Kondisi tersebut membuat keluarga berada dalam situasi sulit karena belum memiliki sumber air alternatif yang dapat digunakan secara rutin.
Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap kondisi kesehatan anaknya sekaligus menindaklanjuti persoalan kualitas air sungai yang selama ini dimanfaatkan warga.
“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah, terutama soal air sungai ini. Kami juga bingung karena untuk kebutuhan sehari-hari masih menggunakan air sungai,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinkes PP & KB) Kabupaten Sekadau, Henry Alpius, mengatakan pihaknya sejauh ini belum menerima laporan terkait keluhan kesehatan warga Nanga Gonis tersebut.
“Belum ada laporan dari wilayah setempat. Kami lihat kasus yang ada di Puskesmas Simpang Empat belum ada peningkatan. Nanti saya cek ke Kapusnya sebagai Pj wilayahnya,” ujar Henry saat dikonfirmasi SuaraKalbar.co.id.
Sebelumnya, keresahan warga Nanga Gonis juga muncul setelah adanya dugaan pencemaran aliran Sungai Nanga Gonis. Warga mengeluhkan kondisi air sungai yang berubah serta melaporkan adanya gangguan pada kulit setelah menggunakan air tersebut. Sejumlah ikan juga disebut ditemukan mati.
Pantauan Suara Kalbar pada Selasa (1/9/2026) di lokasi menunjukkan air Sungai Nanga Gonis tampak berwarna hitam. Di sejumlah bagian sungai, terlihat ikan mati dan sebagian di antaranya telah membusuk.
Sungai Nanga Gonis diketahui mengalir hingga ke Sungai Kapuas. Di bagian hulu, ditemukan dugaan adanya pipa yang mengarah ke aliran sungai dan diduga berkaitan dengan aktivitas pabrik kelapa sawit.
Namun, dugaan pencemaran tersebut belum dapat disimpulkan sebagai penyebab perubahan kondisi air maupun kematian ikan. Diperlukan pemeriksaan kualitas air melalui pengambilan sampel dan uji laboratorium, serta penelusuran oleh instansi berwenang untuk memastikan sumber dan jenis pencemar.
Begitu pula dengan keluhan gatal-gatal yang dialami Sari. Hubungan langsung antara gangguan kesehatan tersebut dengan kondisi air sungai belum dapat dipastikan tanpa pemeriksaan medis dan kajian lingkungan yang memadai.
Karena itu, diperlukan tindak lanjut dari instansi terkait, baik untuk memastikan kondisi kesehatan warga maupun mengetahui kualitas air Sungai Nanga Gonis. Pemeriksaan tersebut penting agar keresahan masyarakat tidak berhenti pada dugaan, tetapi dapat ditindaklanjuti berdasarkan hasil pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan.[SK]
.jpeg)