![]() |
| Gubernur Kalbar Ria Norsan saat tinjau Karhutla di wilayah Kubu Raya. SUARALANDAK/SK |
Peninjauan dilakukan untuk memastikan penanganan titik api berjalan optimal sekaligus memperkuat langkah pencegahan agar kebakaran tidak meluas. Kondisi cuaca panas dan kering yang terjadi saat ini menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan Barat.
Setibanya di lokasi, Norsan melihat langsung kondisi lahan yang masih mengeluarkan kepulan asap. Karakteristik lahan gambut yang memungkinkan api menjalar dan bertahan di bawah permukaan tanah menjadi tantangan tersendiri bagi Satgas Karhutla dalam melakukan pemadaman.
Norsan menegaskan, pengendalian karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh unsur. Pemerintah provinsi dan kabupaten, TNI-Polri, Manggala Agni, pemadam kebakaran, masyarakat peduli api, pihak swasta hingga masyarakat harus bergerak bersama untuk mencegah api berkembang.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita bersama-sama melakukan pencegahan dan penanganan secara cepat. Jangan sampai api ini meluas dan berdampak kepada masyarakat, permukiman maupun fasilitas umum,” tegas Norsan.
Ia kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama di tengah kondisi cuaca yang panas dan kering.
“Saya tidak henti-hentinya mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Kondisi cuaca sekarang sangat rentan. Sedikit saja ada api, bisa dengan cepat berkembang dan sulit dikendalikan,” ujarnya.
Menurut Norsan, pemerintah terus memperkuat langkah preventif melalui kesiapsiagaan posko penanggulangan karhutla, pengawasan kawasan rawan, optimalisasi suplai air serta pengerahan sarana dan prasarana pendukung pemadaman.
“Kita harus memperkuat langkah preventif. Titik-titik yang rawan harus terus dipantau, suplai air harus disiapkan, dan apabila muncul titik api harus segera ditangani sebelum membesar,” katanya.
Norsan menyebut peningkatan jumlah titik api saat ini dipengaruhi kondisi cuaca yang semakin panas, dengan suhu udara mencapai sekitar 35 derajat Celsius, serta masih adanya aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar.
“Kembali saya ingatkan, jangan membakar lahan, baik untuk perkebunan maupun pertanian. Dampaknya sangat luas. Bukan hanya terhadap lingkungan, tetapi juga terhadap kesehatan masyarakat, terutama anak-anak yang rentan terkena infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA,” jelasnya.
Selain memastikan penanganan titik api, pemerintah juga memberikan perhatian terhadap dampak karhutla dan kekeringan yang dirasakan masyarakat.
Dalam kunjungan tersebut, Norsan menyerahkan bantuan berupa masker, vitamin dan kacamata kepada Pemerintah Kabupaten Kubu Raya. Bantuan tersebut diterima langsung Bupati Kubu Raya Sujiwo untuk selanjutnya disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah melindungi masyarakat dari dampak asap akibat karhutla, terutama ketika kualitas udara mengalami penurunan.
Pemerintah provinsi bersama jajaran terkait juga mengerahkan bantuan pasokan air bersih bagi masyarakat Kubu Raya untuk mengantisipasi dampak kekeringan.
Norsan menegaskan, penanganan karhutla tidak boleh hanya berfokus pada pemadaman. Keselamatan, kesehatan serta kebutuhan dasar masyarakat juga harus menjadi perhatian pemerintah.
Sementara terkait penegakan hukum, Norsan memastikan tindakan tegas akan dilakukan terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran lahan, baik dari unsur masyarakat maupun korporasi.
“Khusus untuk korporasi atau perusahaan yang sengaja membakar lahan, sanksinya tidak main-main, mulai dari pencabutan izin usaha hingga ancaman pidana. Penegakan hukum harus berjalan untuk memberikan efek jera dan menekan kejadian karhutla,” tegasnya.
Untuk Kabupaten Kubu Raya, Norsan menyebut pihak kepolisian telah mengamankan dua orang tersangka dari unsur masyarakat terkait kasus karhutla.
Di sisi lain, Bupati Kubu Raya Sujiwo mengatakan keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama dalam situasi darurat karhutla.
“Keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Dalam situasi darurat seperti saat ini, kita harus menghentikan sikap saling menyalahkan dan fokus membangun kolaborasi serta gotong royong,” ungkap Sujiwo.
Menurutnya, pengendalian karhutla membutuhkan kerja bersama lintas sektor, mulai dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, TNI-Polri, pihak swasta hingga masyarakat.
Sujiwo juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan dan stamina para relawan yang berada di garis depan penanganan karhutla. Mereka harus mendapatkan dukungan yang memadai karena bekerja dalam kondisi panas dan terpapar asap.
“Perlindungan terhadap tenaga relawan juga sangat penting. Kesehatan dan stamina mereka, baik dari unsur swasta, pemerintah maupun TNI-Polri, harus dijaga melalui pemeriksaan kesehatan rutin serta dukungan nutrisi dan vitamin,” terangnya.
Selain kawasan Parit Haji Muksin, pemerintah juga memberikan perhatian terhadap titik-titik rawan di sekitar kawasan vital, termasuk Bandara Supadio, Sungai Asam dan wilayah sekitarnya.
Pengawasan dilakukan untuk mencegah kebakaran meluas sekaligus memastikan aktivitas masyarakat dan fasilitas vital tidak terganggu akibat karhutla.
Sujiwo memastikan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya akan terus memaksimalkan upaya penanganan dan mitigasi di lapangan. Ia juga mengajak masyarakat berperan aktif mencegah munculnya titik api baru.
“Pemerintah Kabupaten Kubu Raya berkomitmen untuk terus memaksimalkan penanganan dan mitigasi di lapangan. Kami juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan berdoa agar cuaca segera membaik dan hujan turun sehingga titik-titik api dapat dipadamkan secara menyeluruh,” pungkasnya.[SK]
